KATA-KITA, MAKASSAR – KKMB UNIBOS. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas gizi masyarakat di Kabupaten bantaeng, Sulawesi Selatan, kini berada di ujung tanduk.
Yayasan yang menaungi program mulia ini telah menunggak pembayaran bahan pokok senilai puluhan juta rupiah kepada suplayer.
Akibatnya, pasokan bahan makanan terancam terhenti, dan ribuan penerima manfaat berpotensi kehilangan hak mereka. AR, salah satu suplayer yang memasok Beras, susu, dan kebutuhan pokok MBG lainya mengungkapkan kekecewaannya.
“Tahap pertama, kami menyuplai bahan senilai Rp 26 juta, dan belum dibayar dijanjikan setelah tahap kedua,” ujarnya pada Selasa, 27 September 2025.
Namun, janji tinggal janji. Setelah tahap kedua disuplai, total tunggakan membengkak menjadi Rp47.385.000, dan pihak yayasan tak kunjung melunasi.
“Saya sudah berupaya mengonfirmasi, tapi mereka hanya bilang sedang berusaha,” keluh AR. Padahal, kesepakatan awal adalah pembayaran mingguan, yang kemudian diubah menjadi dua mingguan.
“Ini jelas penipuan, tidak sesuai kesepakatan,” tegasnya. Ia merasa dipermainkan, terutama karena permintaan suplai bahan pokok yang mendadak, yang disertai janji manis pembayaran tepat waktu. Saya terus suplai barang karena mereka janji minggu kedua akan bayar lunas sisa minggu lalu dan tagihan minggu kedua,” tutur AR. Namun, setelah selesai, ia hanya menerima berbagai alasan dan janji kosong.
“Mereka hanya bilang sedang berusaha, tapi sampai sekarang tidak bayar,” sesalnya.
Kondisi ini membuat IR sebagai suplayer merasa dirugikan dan mempertanyakan kredibilitas Yayasan MBG dalam menjalankan program penting ini.
Saat dikonfirmasi oleh wartawan, penanggung jawab Yayasan MBG, tidak memberikan jawaban yang jelas terkait permasalahan tersebut.
Ia justru mengalihkan pertanyaan dan meminta agar berita ini tidak terlebih dahulu dipublikasikan. “Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarokatuh… laporan dari mana, Pak? Iya, supplier siapa ya, Pak?” balasnya saat dikonfirmasi.
Salah Satu pegawai juga juga meminta untuk bertemu langsung dengan wartawan dan mengimbau agar berita ini tidak dulu dipublikasikan.
“Lebih baik kita ketemu dulu, Pak. Jangan dulu diangkat ke berita,” tandasnya.
Sikap ini menimbulkan kecurigaan dan pertanyaan mengenai upaya yayasan untuk menyelesaikan permasalahan tunggakan pembayaran tersebut.Menurutnya, pada minggu pertama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, yayasan hanya mampu membayar setengah dari total yang seharusnya dibayarkan.
“Keterlambatan ini terjadi karena dana yang tersedia di yayasan tidak mencukupi untuk membayar seluruh supplier. Kami masih menunggu pencairan dana dari Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, saat ini pencairan dari BGN terhambat karena masih ada beberapa dokumen dari seluruh KSPPG se-Indonesia yang bermasalah. Proses ini membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan,” jelas Nana saat dikonfirmasi.
Lebih lanjut, Aslap atau yang dikenal Asisten lapangan dalam MBG menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam situasi ini.
“Semua pihak memiliki tanggung jawab masing-masing, baik dari kami di BGN, yayasan, maupun supplier. Kami berusaha mencari solusi terbaik agar masalah ini dapat segera diselesaikan,” tambahnya.
Terkait kepastian pencairan dana, Nana menyebutkan bahwa jika tidak ada kendala, pembayaran kepada seluruh supplier akan diupayakan pada tanggal 28 Desember 2025
“Kami telah mendapatkan pemberitahuan terakhir bahwa pencairan dana untuk seluruh KSPPG se-Indonesia akan dilakukan pada tanggal tersebut, selama tidak ada masalah administrasi yang menghambat prosesnya,” ungkapnya. Ia juga menjelaskan bahwa sebagai badan baru yang menggunakan anggaran negara, Badan Gizi Nasional menghadapi tantangan dalam mencairkan dana dalam jumlah besar untuk setiap titik dapur yang ada.
“Kami butuh waktu untuk memastikan semua data diproses dengan benar. Ke depannya, kami berusaha agar keterlambatan seperti ini tidak terjadi lagi,” tutupnya.(ul)
- Editor: Redaksi

















