KATA-KITA.ID | TANA TORAJA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tana Toraja kini menuai sorotan tajam. Sekitar 3.000 siswa di wilayah Makale terpaksa tidak menerima MBG setelah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pantan dikenai sanksi oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
BACA JUGA: Rambutan Busuk Lolos ke Menu MBG, SPPG Tambunan Akui Sedikit Lalai
Pasang Iklan di SiniPasang Iklan di Sini
Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan publik terkait dugaan Tebang pilih dalam penegakan aturan, setelah SPPG Tambunan di Makale Utara tidak dikenai sanksi meski terbukti menyajikan buah busuk kepada siswa.
Ketua Satgas MBG Tana Toraja, Rudy Andi Lolo, membenarkan bahwa SPPG Pantan dihentikan operasionalnya akibat kelalaian dalam penyajian makanan.
BACA JUGA: Randan Sampetoding Desak SPPG Pantan Makale Dievaluasi, Soroti Salak Busuk dalam Menu MBG
“SPPG Pantan disanksi dan ditutup sementara waktu. Bisa saja pengelolanya diganti karena BGN tidak main-main,” ujarnya, Rabu (4/3/2026) lalu.
Sanksi tersebut dijatuhkan setelah ditemukan buah salak busuk dalam menu MBG yang sempat viral. Bahkan, menurut Rudy, hal itu menunjukkan adanya kesalahan mendasar dalam sistem pengadaan bahan pangan.
“Kalau sampai buah busuk, berarti tidak dibeli dari petani. Ini jelas tidak sesuai standar,” tegasnya.
Akibatnya, ribuan siswa kehilangan akses terhadap program MBG yang seharusnya menjadi hak mereka.
SPPG Tambunan, Makale Utara Lolos dari Sanksi
Berbeda dengan SPPG Pantan, kasus di SPPG Tambunan yang juga menyajikan rambutan busuk tidak berujung pada sanksi apa pun.
Padahal, pihak pengelola sendiri mengakui adanya kelalaian dalam proses sortir.
“Mungkin ada sedikit lalai, mungkin. Tapi untuk sengaja, itu tidak ada. Namanya kita manusia biasa, tidak sengaja. Rambutan ji,” ujar perwakilan SPPG Tambunan, Ibu Onna saat dikonfirmasi, Jumat (27/2/2026) lalu.
Meski pihak SPPG Tambunan mengaku lalai, namun kelalaian itu tidak diikuti dengan sanksi, sementara kasus serupa di tempat lain berujung pada penghentian operasional.
BACA JUGA: SPPG Pantan Sebut Menu MBG Sesuai Standar, Kasus Buah Busuk Jadi Evaluasi
Fakta bahwa buah busuk tetap sampai ke siswa menunjukkan bahwa sistem pengawasan dan kontrol kualitas dalam program MBG masih lemah.
Jika benar ada proses sortir berlapis seperti yang diklaim, maka seharusnya makanan tidak layak konsumsi tidak mungkin lolos hingga tahap distribusi.
Perbedaan perlakuan antara SPPG Pantan dan SPPG Tambunan kini menjadi pertanyaan besar. Apakah penerapan sanksi dalam program MBG benar-benar dilakukan secara merata atau justru tebang pilih.

































