KATA-KITA.ID |MAKASSAR – Sulawesi Selatan dinilai memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sekadar gerbang Indonesia Timur menjadi poros pariwisata internasional. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan terobosan strategis, terutama dalam aspek konektivitas menuju destinasi unggulan.
Momentum pertumbuhan pariwisata nasional saat ini dinilai menjadi peluang emas. Data resmi Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sepanjang 2024 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) telah menembus lebih dari 11 juta kunjungan hingga Oktober, dengan tren pertumbuhan tahunan di atas 20 persen. Bahkan dalam beberapa bulan, angka kunjungan melampaui satu juta wisatawan.
Namun, distribusi kunjungan tersebut belum merata. Sebagian besar wisatawan asing masih terkonsentrasi di Bali, sementara kawasan timur Indonesia belum sepenuhnya menikmati pertumbuhan tersebut.
Penulis dan pemerhati pembangunan daerah, Muhammad Adfan Astaman, menilai Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki daya tarik kelas dunia yang belum tergarap maksimal.
“Sulawesi Selatan tidak kekurangan destinasi kelas dunia. Yang kita butuhkan hari ini adalah lompatan konektivitas agar potensi itu benar-benar terakses,” ujarnya.
Potensi Besar, Akses Masih Terbatas
Sebagai ibu kota provinsi, Makassar memiliki infrastruktur yang relatif kuat. Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi simpul transportasi utama kawasan timur Indonesia.
Namun, berdasarkan rilis BPS Sulawesi Selatan, jumlah kunjungan wisman melalui provinsi ini masih berada pada kisaran ribuan per bulan—angka yang jauh dibandingkan dengan destinasi utama nasional.
Padahal, Sulawesi Selatan memiliki sejumlah destinasi unggulan seperti:
- Taman Nasional Taka Bonerate, salah satu atol terbesar di dunia
- Pantai Bira dengan karakter pasir putih dan laut jernih
- Tana Toraja yang dikenal dunia karena lanskap alam dan warisan budayanya
Menurut Adfan, kendala utama bukan pada kualitas destinasi, melainkan pada waktu tempuh yang panjang dan akses yang belum efisien, khususnya menuju kawasan kepulauan dan pesisir.
“Dalam pariwisata premium, waktu adalah mata uang. Wisatawan dengan daya beli tinggi tidak hanya membeli destinasi, tetapi juga efisiensi dan kenyamanan,” tegasnya.
Seaplane, Infrastruktur Pengubah Permainan
Salah satu solusi yang dinilai realistis adalah pengembangan jaringan seaplane (pesawat amfibi) berbasis Makassar. Moda ini memungkinkan pendaratan langsung di perairan dekat pulau atau kawasan resort tanpa memerlukan landasan pacu konvensional.
Dengan skema tersebut, perjalanan menuju destinasi seperti Taka Bonerate yang biasanya memakan waktu lebih dari 10 jam dapat dipangkas menjadi sekitar 60–90 menit.
“Seaplane bukan sekadar moda transportasi, tetapi infrastruktur strategis yang bisa mengubah peta pariwisata kawasan timur,” jelasnya.
Model hub-and-spoke memungkinkan Makassar menjadi pusat distribusi wisata premium menuju berbagai destinasi di Sulawesi Selatan. Bahkan, terbuka peluang integrasi paket wisata “Bali–Sulawesi Selatan” guna memperpanjang lama tinggal wisatawan internasional di Indonesia.
Dalam praktik global, Maladewa telah membuktikan bahwa seaplane dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus simbol konektivitas premium.
“Jika Bali adalah etalase pariwisata Indonesia, maka Sulawesi Selatan berpeluang menjadi hub distribusi wisata Indonesia Timur,” tambahnya.
Dampak Ekonomi dan Tantangan Realisasi
Konsep pariwisata premium berbasis konektivitas cepat menawarkan pendekatan high value–low volume tourism. Jumlah wisatawan tidak perlu masif, tetapi nilai belanja per kunjungan tinggi.
Jika Sulawesi Selatan mampu menarik tambahan 100.000–150.000 wisatawan premium per tahun dengan rata-rata belanja 1.500–2.500 dolar AS per kunjungan, potensi perputaran ekonomi dapat mencapai ratusan juta dolar AS per tahun. Dampaknya akan terasa pada sektor investasi resort, UMKM pesisir, transportasi lokal, hingga Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Meski demikian, pengembangan seaplane memerlukan dukungan regulasi penerbangan yang jelas, skema investasi publik–swasta, serta standar lingkungan ketat guna menjaga ekosistem pesisir.
“Momentum pertumbuhan pariwisata nasional sudah ada. Infrastruktur dasar tersedia. Potensi destinasi sudah diakui. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian kebijakan dan visi besar,” pungkas Adfan.
Ia menegaskan, jika konektivitas premium benar-benar diwujudkan, Sulawesi Selatan tidak lagi sekadar gerbang Indonesia Timur, melainkan poros pariwisata internasional yang terhubung cepat, eksklusif, dan bernilai tinggi.

























