Selamat Merayakan Jumat Agung
ArtikelDaerah

OPINI: Bongkar! Di Balik Tradisi, Ada Industri Judi yang Menggerus Generasi

×

OPINI: Bongkar! Di Balik Tradisi, Ada Industri Judi yang Menggerus Generasi

Sebarkan artikel ini

KATA-KITA.ID |TANA TORAJA – OPINI Oleh Gibion Lomo, Runtuhnya arena bukan sekadar peristiwa fisik. Ia adalah simbol. Simbol dari sesuatu yang selama ini dibiarkan tumbuh, dipelihara, bahkan dibela atas nama tradisi.

Di tempat itu, yang dipertontonkan bukan lagi sekadar adu kerbau. Yang beradu adalah nilai—antara keserakahan dan masa depan generasi muda.

Pasang Iklan di Sini
Pasang Iklan di Sini

Anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas justru berdiri di pinggir arena. Mereka tidak belajar tentang ilmu pengetahuan, tetapi tentang taruhan, tentang sorakan, tentang bagaimana uang bisa menjadi pusat segalanya.

Ini bukan lagi soal budaya.

Budaya tidak pernah mengajarkan anak-anak untuk berjudi. Budaya tidak menciptakan ruang bagi bandar, tidak melahirkan pecandu, dan tidak mengosongkan sekolah demi memenuhi tribun.

Apa yang terjadi hari ini adalah pergeseran—dari nilai menjadi komoditas, dari tradisi menjadi industri. Sebuah industri kehancuran yang kebetulan mengenakan pakaian adat.

Ketika arena itu diruntuhkan, sebagian orang menyebutnya sebagai serangan terhadap budaya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah pembongkaran kemunafikan yang terlalu lama disembunyikan.

Namun, merobohkan arena tidak serta-merta menyelesaikan persoalan.

Perjudian tidak tinggal di papan kayu. Ia hidup dalam sistem, dalam jaringan, dalam kebiasaan yang sudah mengakar. Narkoba tidak lenyap bersama runtuhnya tribun. Ia hanya berpindah tempat.

Inilah yang sering luput: yang dihancurkan hanyalah simbolnya, bukan sistem yang menopangnya.

Jika setelah ini anak-anak masih menemukan tempat lain untuk belajar berjudi, jika uang haram hanya berpindah lokasi, dan jika orang dewasa tetap memilih diam, maka yang berubah hanyalah alamatnya—bukan masalahnya.

Toraja hari ini sedang bercermin.

Dan mungkin, yang paling menyakitkan bukan apa yang terlihat, tetapi kesadaran bahwa semua ini sebenarnya sudah lama diketahui—hanya saja dibiarkan.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa keras kerbau beradu. Sejarah akan mencatat bagaimana manusia, yang tahu segalanya, memilih untuk tetap menjadi penonton.

Karena generasi tidak hancur oleh tradisi.

Generasi hancur ketika orang dewasa membiarkannya.

“Dan yang paling berbahaya…
bukan yang bermain di arena.
Tapi yang tahu semuanya…
dan memilih diam.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *