KATA-KITA.ID | TORAJA UTARA – Dugaan penyalahgunaan distribusi BBM jenis Solar kembali mencuat. Seorang sopir inisial N pemilik barcode resmi untuk pengisian Solar subsidi mengaku mendapati kuotanya telah habis terpakai, padahal ia merasa tidak pernah melakukan pengisian di SPBU Karassik.
Sopir N mengaku baru mengetahui adanya transaksi saat hendak menggunakan barcode miliknya untuk mengisi BBM.
“Saya tidak pernah mengisi solar di sana, tapi pas saya mau pakai barcode saya untuk mengisi BBM, sudah tidak ada saldonya. Keterangannya di situ transaksi terakhir ada di SPBU Karassik (SPBU 7491805,” ujarnya, Minggu 15 Februari 2026.
Ia mengaku terkejut karena merasa selalu memegang dan mengamankan barcode tersebut. Menurutnya, pada waktu yang tercatat sebagai transaksi terakhir, kendaraannya tidak berada di lokasi SPBU tersebut.
Ironisnya, meski bukan pemilik barcode yang melakukan transaksi, pihak SPBU justru melayani pengisian BBM meskipun kendaraan yang melakukan transaksi tidak sesuai dengan data barcode dan nomor polisi yang terdaftar.
Ketidaksesuaian antara plat kendaraan dan barcode yang digunakan untuk pengisian BBM menimbulkan dugaan adanya kelalaian dalam proses verifikasi di lapangan.
Bahkan kuat dugaan ada kongkalikong antara pihak SPBU dengan oknum yang menggunakan barcode orang lain untuk pengisian BBM.
Sebagaimana diketahui, distribusi Solar subsidi diawasi melalui sistem barcode yang berada dalam pengawasan PT Pertamina (Persero) untuk memastikan penyaluran tepat sasaran. Sistem ini dirancang agar tidak terjadi penyalahgunaan atau pengalihan kuota kepada pihak yang tidak berhak.
Apabila dugaan transaksi tanpa sepengetahuan pemilik barcode ini terbukti, maka hal tersebut berpotensi menjadi indikasi adanya praktik penyalahgunaan sistem distribusi BBM subsidi.
Ia pun mendesak agar Aparat Penegak Hukum segera melakukan penelusuran dan investigasi menyeluruh guna memastikan tidak adanya praktik mafia Solar yang merugikan negara dan masyarakat kecil di SPBU Karassik.
“Semoga APH bisa segera menertibkan SPBU Karassik, kasian kami yang punya barcode kadang mau mengisi BBM tapi kuotanya tiba-tiba hanis karena disalahgunakan oleh oknum tertentu untuk mencari keuntungan,” pungkasnya.








































