KATA-KITA.ID | TANA TORAJA – Penolakan masyarakat terhadap rencana proyek geothermal di Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja terus menguat. Warga menegaskan tidak akan menghentikan tekanan hingga Bupati Tana Toraja menunjukkan sikap resmi secara tertulis terkait tuntutan penolakan proyek tersebut.
BACA JUGA: Viral di Medsos, Camat Bittuang Sebut Penolakan Geothermal Bisa Pengaruhi Bansos dan PKH
Pasang Iklan di SiniPasang Iklan di Sini
Pernyataan itu disampaikan salah satu massa aksi saat menggelar unjuk rasa di depan Kantor Bupati Tana Toraja, Jumat (13/03/2026).
Menurut massa aksi, kehadiran mereka bukan untuk menciptakan konflik, melainkan untuk mencari solusi melalui dialog dengan pemerintah daerah.
“Kami datang untuk berdialog mencari solusi, bukan untuk diabaikan. Jika pemimpinnya saja menghindar, kepada siapa lagi rakyat harus mengadu?” ujar salah satu massa aksi dengan nada kecewa.
Warga menilai hingga saat ini pemerintah daerah belum menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap aspirasi masyarakat yang menolak rencana pembangunan geothermal di wilayah Bittuang.
BACA JUGA: Simbol Perlawanan Proyek Geothermal, Massa Aksi Bakar Ban di Kantor Bupati Tana Toraja
Karena itu, masyarakat menegaskan akan terus melakukan berbagai bentuk tekanan hingga Bupati Tana Toraja memberikan pernyataan sikap secara tertulis, sebagaimana yang sebelumnya telah dilakukan oleh DPRD Tana Toraja.
Menurut warga, penolakan terhadap proyek geothermal bukan tanpa alasan. Mereka mengaku telah melakukan berbagai kajian mandiri serta mempertimbangkan potensi dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Beberapa kekhawatiran yang menjadi dasar penolakan warga antara lain:
Krisis Air Bersih
Warga menilai aktivitas ekstraksi panas bumi membutuhkan suplai air dalam jumlah besar yang berpotensi menguras sumber daya air bawah tanah yang selama ini digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.
Ancaman Gempa Mikro (Seismik)
Proses pengeboran geothermal di wilayah pegunungan yang berada di zona patahan dikhawatirkan dapat memicu gempa mikro yang berpotensi mengancam keselamatan pemukiman warga.
BACA JUGA: Aliansi Rakyat Tolak Geothermal Seruduk Kantor Bupati, Massa Desak Sikap Tegas Bupati Zadrak Tombeg
Pencemaran Gas Berbahaya
Aktivitas panas bumi juga berisiko menimbulkan kebocoran gas Hidrogen Sulfida (H₂S) yang berbau menyengat serta berbahaya bagi kesehatan manusia apabila terpapar dalam jangka panjang.
Rusaknya Ekosistem Adat
Selain itu, warga juga khawatir proyek tersebut dapat merusak hutan lindung, lahan adat, serta situs-situs sakral masyarakat Toraja yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Bittuang.
“Pembangunan di daerah harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, ruang hidup masyarakat, serta nilai-nilai adat yang telah dijaga secara turun-temurun,” tegas massa aksi.
Karena itu, warga Bittuang menyatakan akan terus mengawal isu ini hingga pemerintah daerah menunjukkan sikap tegas terhadap tuntutan masyarakat yang menolak proyek geothermal di wilayah mereka.







































