KATA-KITA.ID | MAKASSAR – Pendiri Kopteru Indonesia (Komunitas Peternak Unggas Indonesia), Ayub Herbi Patandean, meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi peternak rakyat, khususnya peternak ayam kampung, dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Ayub, Program MBG tidak hanya berfungsi meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga dapat menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi pedesaan dan meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat apabila dikelola secara inklusif.
“Program MBG memiliki potensi besar untuk mengangkat ekonomi peternak rakyat. Karena itu, peternak ayam kampung yang tersebar hampir di seluruh pelosok Indonesia jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus dilibatkan secara aktif sebagai pemasok bahan pangan,” ujar Ayub, Rabu (03/06/2026).
Ayub menjelaskan, Kopteru Indonesia yang berbasis di Sulawesi telah mendampingi ribuan peternak unggas rakyat di berbagai daerah. Dari pengalaman tersebut, pihaknya memahami berbagai tantangan yang selama ini dihadapi peternak kecil, mulai dari keterbatasan akses pasar, fluktuasi harga, tingginya biaya produksi, hingga minimnya keterlibatan dalam program-program pemerintah.
“Selama ini banyak peternak ayam kampung memiliki kemampuan produksi yang baik, tetapi belum mendapatkan akses pasar yang berkelanjutan. Program MBG seharusnya menjadi solusi untuk membuka pasar yang stabil bagi mereka,” katanya.
Ia menilai sektor ayam kampung sangat identik dengan usaha rakyat dan ekonomi keluarga di pedesaan. Berbeda dengan industri ayam pedaging skala besar yang umumnya dikelola perusahaan terintegrasi, peternakan ayam kampung menjadi sumber penghasilan bagi banyak masyarakat desa.
Karena itu, Ayub mengusulkan agar pemerintah memasukkan daging ayam kampung ke dalam menu MBG secara berkala, minimal satu kali dalam sepekan. Langkah tersebut diyakini mampu menciptakan permintaan pasar yang besar sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung kepada peternak rakyat.

Selain bernilai ekonomi, ayam kampung juga memiliki kandungan protein hewani yang baik dan telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat Indonesia sejak lama. Diversifikasi sumber protein dalam Program MBG dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
“Kami berharap pemerintah daerah mulai memetakan jumlah dan kapasitas peternak ayam kampung di wilayah masing-masing untuk dilibatkan sebagai mitra penyedia bahan pangan MBG. Dengan begitu, manfaat program ini tidak hanya dirasakan penerima makanan bergizi, tetapi juga peternak rakyat yang menjadi tulang punggung ekonomi desa,” jelasnya.
Ayub menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, koperasi, komunitas peternak, dan pelaku usaha lokal akan membuat Program MBG menjadi lebih berdampak dan berkelanjutan.
“Jika peternak rakyat dilibatkan secara aktif, maka Program MBG tidak hanya berhasil meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan hingga ke pelosok Indonesia,” tutup Ayub.































