KATA-KITA.ID | TANA TORAJA – Aktivis Toraja, Ricdwan Abbas Bandaso’ mendukung langkah Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja (Getor) memberantas praktik judi adu kerbau dan sabung ayam. Dia menyebut upaya ini untuk menyelamatkan generasi muda dari judi berkedok adat.
Hal itu disampaikan Ricdwan menyikapi aksi unjuk rasa masyarakat yang mengatasnamakan praktisi budaya di halaman Kantor BPS Gereja Toraja, Tongkonan Sangulele, Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (18/3/2026). Massa menolak adu kerbau ditiadakan.
“Saya mendukung langkah Gereja Toraja memberantas judi. Alasannya mereka sangat terukur, mereka ingin menyelamatkan generasi kita dari hal-hal yang melanggar hukum dan menyelamatkan anak-anak musa dari hal-hal yang sia-sia. Kita jangan berlindung di balik adat yang jelas-jelas terselubung judi,” ujarnya kepada KATA-KITA, Rabu (18/03/2026).
Pelapor Pandji Pragiwaksono soal pelecehan adat Toraja ini juga juga menyesalkan KPTS yang menolak kebijakan BPS Gereja Toraja. Menurutnya, tindakan ini memalukan masyarakat, sebab praktik perjudian telah diatur dalam undang-undang (UU) sebagai perbuatan yang dilarang di republik.
Selain itu, kata dia, tokoh agama gereja Toraja hanya menjalankan fungsi dan perannya, yakni mencegah masyarakat terlibat dalam hal-hal yang merugikan diri sendiri.
“Saya pikir jelas ya, judi itu dilarang di negara kita sesuai hukum yang ada. Dalam hal ini juga, peran tokoh agama adalah meluruskan tindakan-tindakan ummat yang keliru, dan mereka sudah laksanakan itu,” katanya.
Ricdwan lantas mempertanyakan masyarakat yang menggelar aksi dengan alasan menyelamatkan adat. Kata dia, leluhur Toraja tidak mengajarkan budaya judi serta tidak mendidik masyarakat adat melakukan perbuatan yang bertentangan dengan aturan negara.
Selain itu, pihak gereja kata dia, tengah berupaya menjaga harmonisasi antar ummat di Toraja karena sekarang ini bulan suci ramadan.
“Sebenarnya tidak perlu ngotot-ngototan sampai turun ke jalan, cobalah dibicarakan secara baik-baik dulu, duduk bersama membicarakan persoalan itu. Lagian, pihak gereja kan tidak melarang adat tedong silaga maupun sabung ayam, yang mereka larang itu perjudian,” ujarnya.
“Dalam surat ke Kapolri juga jelas, ini kekhawatiran pihak gereja. Mereka tidak mau anak-anak sekolah terjerumus dalam judi, dan memang ini bulan puasa bagi saudara kita yang muslim. Apalagi jelas salah satu arena yang juga disorot itu tepat di samping gereja. Ini pencegahan, dimana adu kerbau dan sabung ayam kerap disusupi judi,” jelas Ricdwan.
Dia uga menyarankan gereja Toraja seharusnya melihat internal lembaga. Jangan sampai fokus memberantas tapi tidak menyiapkan solusi untuk generasi.
“Gereja Toraja juga blunder disini karena tidak duduk bersama pemangku adat dan pemerintah sebelum mengambil sikap. Tapi karena sudah bersikap, jangan sampai memberantas tapi tidak menyiapkan solusi untuk generasi. Wadah-wadah pembinaan dan pengembangan bakat yang jadi solusi kan masih minim, itu harusnya ditingkatkan
“Harusnya, BPS duduk bersama pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun tokoh adat sebelum mengambil keputusan. Tapi karena terlanjur bersikap, BPS harus menyiapkan ruang-ruang solusi. Jangan sampai memberantas tapi tidak menyiapkan solusi untuk generasi seperti wadah pengembangan bakat. Ini kan masih minim, itu harusnya ditingkatkan lagi,” ujarnya.


























