KATA-KITA.ID | ENREKANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan serius. Sebanyak 13 siswa SDN 195 Buntu Ampang, Desa Baroko, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi paket MBG yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Baroko, Selasa (31/03/2026).
Para siswa dilaporkan mengalami mual setelah menyantap makanan yang dibagikan di sekolah. Peristiwa ini kembali menimbulkan kekhawatiran publik terhadap kualitas dan pengawasan distribusi program MBG di daerah.
Kepala SPPG Baroko, Warsito Leha, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengakui bahwa makanan yang dikonsumsi siswa berasal dari dapur SPPG yang dipimpinnya.
“Iya benar dari SPPG kami (SPPG Baroko), katanya ada sekitar 13 orang,” ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut justru memicu pertanyaan. Warsito menyebut pihaknya hanya mengetahui kejadian setelah mendapat laporan dari sekolah, bukan dari sistem pengawasan internal.
Fakta bahwa SPPG baru mengetahui kejadian setelah laporan dari sekolah menunjukkan lemahnya pengawasan internal.
Ia mengklaim bahwa sebelum distribusi, makanan telah diperiksa oleh ahli gizi hanya dengan cara mencium bau ayam.
“Sebelum disalurkan ahli gizi sudah mencium bau ayamnya dan masih bagus, tapi tidak tahu setelah sampai ke sekolah kok sudah basi,” katanya.
Pernyataan ini dinilai tidak mencerminkan standar pemeriksaan makanan yang layak, apalagi untuk program konsumsi anak-anak.
Kasus ini kembali membuka kelemahan serius dalam sistem pengawasan dan distribusi MBG. Pemeriksaan yang hanya mengandalkan penciuman tanpa uji kualitas yang lebih ketat dinilai sangat berisiko.
Apalagi, makanan yang didistribusikan dikonsumsi langsung oleh siswa sekolah dasar yang rentan terhadap dampak kesehatan.
Insiden ini bukan yang pertama terjadi dalam program MBG di Sulawesi Selatan. Kasus demi kasus yang terus muncul mulai dari makanan basi hingga dugaan kelalaian distribusi, memperlihatkan adanya masalah sistemik yang belum terselesaikan.
Jika tidak segera ditangani secara serius, program yang seharusnya meningkatkan gizi anak justru berpotensi membahayakan kesehatan mereka.
Masyarakat mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja SPPG Baroko, Kecamatan Enrekang.
“Penanganan kasus tidak boleh berhenti pada pengakuan semata, tetapi harus disertai langkah konkret dan sanksi tegas, kalau perlu SPPGnya ditutup,” kata salah satu warga Baroko yang enggan disebutkan namanya.
Program MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan tanggung jawab besar terhadap keselamatan generasi masa depan.
“Karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin korban berikutnya akan kembali jatuh,” pungkasnya.


























