KATA-KITA.ID | TANA TORAJA– Aktivis Toraja, Ridwan Abbas Bandaso’ menyesalkan dan mengecam kepala sekolah di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang melarang siswanya mengenakan jilbab di lingkungan SMP Negeri 2 Bonggakaradeng.
“Ini sangat disayangkan apalagi di lakukan oleh seorang pendidik. Pihak terkait dan penegak hukum harus segera ambil tindakan karena ini sudah mencederai toleransi di Toraja, ini rasis namanya,” ujarnya, Rabu (29/07/2026).
Kecaman tersebut dilontarkan Ricdwan menanggapi larangan mengenakan jilbab yang di sampaikan Kepala Sekolah (kepsek) SMP 2 Bonggakaradeng, Naomi seusai upacara bendera pada Senin (27/7/2026) lalu.
Ricdwan mengatakan seorang guru utamanya Kepsek sebagai pimpinan di sekolah menjadi teladan dan menerapkan kebijakan sesuai aturan yang berlaku di Indonesia, sesuai undang-undang dasar (UUD) dan Pancasila.
“Guru adalah orang yang seharusnya mencerdaskan generasi penerus bangsa agar menjadi pribadi yang bijak, berkarakter, cerdas sehingga mampu berkontribusi untuk masyarakat daerah dan bangsa. Jangan justru menjadi pembunuh karakter apalagi mencederai nilai bangsa,” ungkap Ricdwan
Larangan menggunakan jilbab ini sudah berlangsung beberapa bulan. Pasalnya, larangan tersebut karena mayoritas siswa di sekolah itu beragama Kristen. Sehingga pelajar yang tidak mengikuti aturan diancam untuk pindah sekolah.
Tak terima perlakuan itu, para siswi lalu mengadu ke orang tua dan mendatangi sekolah untuk menyampaikan protes. Mereka beramai-ramai mempertanyakan dasar larangan tersebut.
“Sudah berapa kali kami dilarang. Terakhir itu waktu di lapangan setelah upacara. Dia bilang kenapa pakai jilbab lagi. Kalau tidak mau ikut aturan mending sekolah di madrasah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala sekolah, Naomi saat dikonfirmasi, berdalih pernyataan tersebut hanya gurauan. Dia menuturkan, dirinya tidak bermaksud melarang siswa mengenakan jilbab.
“Saya tidak melarang, saya hanya bercanda,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tersebut juga telah dibicarakan bersama orang tua siswa sehingga dianggap telah selesai dan tidak lagi menjadi persoalan di lingkungan sekolah.
Selain itu, dia juga mengaku telah menghubungi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tana Toraja untuk menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang muncul. Dirinya juga mengaku telah dipanggil oleh atasannya (Wakil Bupati dan Sekda) untuk memberikan klarifikasi terkait dugaan pelarangan penggunaan jilbab tersebut.
“Saya sudah ketemu Pal Sekda, Pak Wakil, dan telpon Ketua MUI. Saya sudah minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Saya juga sudah ketemu orang tua siswa di sekolah,” ujarnya







































